Inilah Kisah Keluarga Asal Indonesia Yang Berhasil Melarikan Diri dari ISIS

Inilah Kisah Keluarga Asal Indonesia Yang Berhasil Melarikan Diri dari ISIS

Inilah Kisah Keluarga Asal Indonesia Yang Berhasil Melarikan Diri dari ISIS

Sebuah kisah miris dan dramatis dialami seorang remaja perempuan beserta 25 anggota keluarganya yang berhasil melarikan diri dari ISIS di Suriah. Padahal sebelumnya, negara itu justru menjadi tempat yang mereka impikan.

Bermula dari ketertarikan Nurshardrina Khairadhania, nama remaja perempuan itu, terhadap ISIS melalui sebuah blog dari seseorang yang tinggal di sana.

Pada 2015, Nur, panggilan remaja berusia 17 tahun itu, menawarkan kepada kedua orangtua, saudari kandung, dan anggota keluarganya yang lain untuk pindah dan menetap di wilayah ISIS di Raqqa, Suriah.

Banyak harapan yang mereka gantungkan tentang sebuah kehidupan yang lebih baik di bawah kekuasaan ISIS. Mulai dari fasilitas pendidikan dan kesehatan gratis untuk anak-anak perempuan, dibayarkannya utang-utang besar yang membelit ayah dan paman, serta pekerjaan untuk anak-anak mereka.

Namun ternyata, tak butuh waktu lama hingga akhirnya semua mimpi yang mereka dambakan itu runtuh, dan segala perhitungan mereka tentang kehidupan ekonomi yang lebih baik tenggelam bersama fakta yang mereka saksikan sendiri di bawah neraka ISIS. Yakni, maraknya nepotisme, agresi, obsesi pada seks, dan pertempuran sengit yang meminta para pria bertubuh sehat maju ke garis depan.

Image result for Nurshardrina Khairadhania

Nurshardrina Khairadhania

Dalam sebuah wawancara dengan Associated Press (AP), Nur yang kini berusia 19 tahun, mengenang keputusan yang begitu menentukan hampir sekitar dua tahun lalu itu. Ketika dia berhasil meyakinkan keluarga besarnya untuk pergi ke Raqqa, dan beberapa bulan kemudian perjalanan mereka dimulai.

Namun, dua tahun kemudian, ketika berhasil meloloskan diri dari ISIS, Nur dan keluarganya terombang-ambing. Neneknya meninggal dan salah satu pamannya tewas karena sebuah serangan pesawat tempur

Tak hanya itu, Nur sekarang hanya dapat tinggal bersama ibunya, bibi, saudari, tiga sepupu perempuan, serta tiga anak mereka dalam kamp pengungsian di kota Raqqa, Ayn Issa. Mereka menunggu di sebuah tenda, dengan suhu panas yang membakar kamp pengungsian.

Sementara lima laki-laki anggota keluarga Nur yang masih bertahan hidup, termasuk ayah Nur, berada dalam tahanan di suatu tempat di wilayah utara kota tersebut.

Empat puluh hari setelah melarikan diri dari Raqqa, Nur dan keluarganya berharap dapat berkumpul dan kembali ke kampung halaman mereka di Jakarta.

Nur mengatakan, keputusan pergi ke ISIS merupakan sebuah “kesalahan besar”.

Image result for Nurshardrina Khairadhania

Nurshardrina Khairadhania

“Mereka (ISIS) mengatakan, semua muslim harus pindah ke wilayah mereka dan jika anda ingin menjadi muslim yang sesungguhnya, anda harus pergi ke wilayah mereka. Dan mereka akan memberikan anda semua fasilitas secara cuma-cuma,” kata Nur.

“Mereka memberikan beberapa janji, misalnya, jika kita sebagai muslim memiliki utang yang besar dan tidak bisa membayar, maka ISIS yang akan melunasinya. Dan mengenai ongkos perjalanan yang kami habiskan dari Indonesia ke Raqqa, mereka pun akan menggantinya. Mereka akan membayar semua ongkos tersebut,” ujar Nur.

Nur beserta 25 anggota keluarganya adalah ribuan di antara mereka yang mengejar mimpi akan sebuah masyarakat baru, sebagaimana dipropagandakan oleh ISIS melalui berbagai media dalam bentuk video, website, dan pengikut setia mereka.

Nurlah yang membuat keputusan untuk berangkat ke Raqqa pada salah satu pertemuan rutin keluarga. Ia meyakinkan ayah dan pamannya bahwa utang mereka akan dilunasi, dan meyakinkan saudari perempuannya bahwa dia dapat melanjutkan pendidikan ilmu komputernya secara gratis.

Image result for Nurshardrina Khairadhania

Sepupunya yang sudah bercerai, Difansa Rachmina (32), dan ibu dari tiga anak, termasuk seorang anak yang autis, menginginkan kesehatan tanpa dikenakan biaya. Paman jauhnya juga memiliki utang untuk menyelamatkan bisnis servis mobilnya, dan ingin memulai sebuah hal baru di Suriah.

Padahal, seorang mekanik mobil akan dimanfaatkan ISIS sebagai pembuat bom.

Dua tahun lalu bagi Nur, ISIS adalah tempat yang tepat untuk mengembangkan ketertarikannya belajar tentang Islam, dan mungkin berlatih menjadi praktisi kesehatan.

Untuk mengejar semua angan tersebut, keluarga Nur nekat menjual rumah, mobil dan emas mereka, serta berhasil mengumpulkan hampir 38 ribu dolar AS atau sekitar Rp 500 juta untuk memulai perjalanan mereka ke Turki dan kemudian ke Suriah.

Nur mengatakan, di Turki keluarganya sempat berdebat mengenai keputusan untuk tetap lanjut pergi ke Suriah atau berhenti sampai di Turki.

Keputusan keluarganya pun terbelah. Sekitar tujuh orang, termasuk salah satu paman dan adik laki-lakinya, Mohammad, ditahan oleh pihak berwenang Turki. Mereka sekarang berada di bawah pengawasan pemerintah Indonesia. Itulah kali pertama bencana cerai-berai menimpa keluarga mereka.

 

Begitu berada di wilayah ISIS, Nur bersama 19 anggota keluarganya yang lain kembali terpisah antara laki-laki dan perempuan. Yang laki-laki dikirim ke lembaga pendidikan, dan yang perempuan ke asrama perempuan.

Nur pun terkejut ketika berada di asrama yang dikelola oleh ISIS itu. Ia melihat para perempuan bergosip dan bertengkar, bahkan terkadang menggunakan pisau.

“Begitu banyak hal di ISIS yang sangat sangat jauh dari Islam. Banyak penindasan yang mereka lakukan. Anda tahu, Islam adalah keadilan dan kedamaian, tetapi di dalam ISIS tidak ada keadilan dan kedamaian. Karena ada begitu banyak perbedaan besar antara elite ISIS dan penduduk sipil,” ujar Nur.

“Mereka menekan para penduduk. Para penduduk harus membayar berbagai macam hal seperti listrik, obat-obatan. Tetapi untuk ISIS, semua itu gratis. Mereka dalam kondisi baik. Itu adalah sebuah perbedaan yang sangat-sangat besar dan tidak ada keadilan,” kata Nur.

Pejabat ISIS juga mengabaikan pertanyaan Nur tentang di mana dan kapan ia bisa mengenyam pendidikan kesehatan. Selain itu, anggota keluarganya dipenjara selama berbulan-bulan karena menolak pelatihan militer dan pelayanan.

Setelah dibebaskan, mereka harus tinggal sembunyi-sembunyi untuk menghindari perekrutan paksa atau bakal kembali dipenjara.

Ketika pertempuan memperebutkan Raqqa berkecamuk, petugas keamanan datang dan mengetuk pintu tempat mereka tinggal, berpura-pura sedang mencari rumah kosong, padahal mencari orang-orang di rumah tersebut.

Perang Melawan ISIS di Mosul.

Perang Melawan ISIS di Mosul. (Foto: REUTERS/Ahmed Saad)

Karena mereka tidak pernah terdaftar dalam dinas militer, mereka tidak pernah mendapatkan pekerjaan atau gaji yang mereka harapkan. Utang-utang ayah dan paman Nur tidak pernah dibayarkan. Salah seorang lelaki dalam keluarga besarnya terbunuh dalam serangan udara saat berada di pasar, dan nenek mereka meninggal di usia tua.

Untuk mengamankan perjalanannya hengkang dari wilayah mengerikan itu, Nur sekali lagi melihat ke internet untuk mencari musuh ISIS. Kali ini dengan risiko jauh lebih besar: menggunakan warung internet sebagai satu-satunya akses yang dia dapatkan di Raqqa.

Bukan tak mungkin Nur ditangkap dengan mudah jika terjadi penggerebekan.

Nur menghubungi aktivis kemanusiaan, dan mengirim sebuah pesan WhatsApp ke Kedutaan Besar Republik Indonesia di Damaskus, memberi tahu mereka bahwa Nur dan keluarganya ingin melarikan diri.

Keluarga Nur yang berada di Indonesia juga menghubungi kantor PBB setempat.

Sekali lagi, Nur memimpin pelarian keluarganya. Kali ini untuk menjauhi tanah yang pernah diharap-harapkannya itu.

Nur menemukan penyelundup yang bersedia dibayar 4 ribu dolar AS untuk membawa ia dan keluarganya ke tempat yang relatif aman. Lalu mereka menyerahkan diri pada pasukan Kurdi bulan lalu.

Nur mengatakan, ia dan keluarganya telah berusaha untuk meninggalkan kota itu hampir enam bulan sejak mereka tiba pada Agustus 2015.

“Aku sangat sangat menyesal. Aku sangat bodoh, naif, dan aku hanya menyalahkan diriku sendiri. Aku menyalahkan diri sendiri karena telah membawa seluruh keluargaku dan aku bertobat pada Tuhan. Semoga Dia melihat pertobatanku.”

“Perjalanan ini tidak seperti liburan ke Turki. Ini adalah perjalanan berbahaya, sangat berbahaya. Dan alhamdulillah, kami selamat melarikan diri dari wilayah ISIS,” kata Nur.

 

 

Sumber Berita Inilah Kisah Keluarga Asal Indonesia Yang Berhasil Melarikan Diri dari ISIS : Kumparan.com

Comments

comments