Komentar Anies Tuai Kecaman Disaat Bermaksud Klarifikasi Soal Pribumi

Komentar Anies Tuai Kecaman Disaat Bermaksud Klarifikasi Soal Pribumi

Komentar Anies Tuai Kecaman Disaat Bermaksud Klarifikasi Soal Pribumi

Ada orang bijak pernah mengatakan bahwa kebohongan satu akan terus menerus menghasilkan kebohongan jika tidak mau mengakui kebohongan tersebut. Kekeliruan yang kita lakukan juga hanya akan terus kita tutup-tutupi dengan sebuah kebohongan dan ngelesan-ngelesan yang menggelikan.

Pilihan terbaik saat kita sedang melakukan kesalahan adalah mengakui telah salah dan keliru kemudian meminta maaf. Tidak perlu diperpanjang dengan penjelasan-penjelasan lain yang malah menghasilkan kekeliruan baru dan semakin tidak masuk akal dan menumbulkan kecurigaan ada yang tidak beres. Sayangnya, hal itu tidak dilakukan oleh Anies Baswedan yang telah keliru menggunakan istilah pribumi.

Ya, Anies yang dalam pidato pertamanya menyatakan kembali istilah pribumi dan non pribumi akhirnya mendapatkan kecaman keras dari berbagai pihak. Anies yang memang tidak pernah akan mau mengaku salah pada akhirnya menjelaskan maksud pribumi dalam pidatonya tersebut.

Anies menyebutkan bahwa dalam tulisannya, yang dimaksudkannya adalah konteks pada masa penjajahan. Dan menurut dia, memang Jakartalah yang paling merasakan penajajhan dan yang pertama melihat Belanda dari dekat. Bukan pelosok-pelosok dan daerah-daerah. Benarkah pernyataan Anies??

Ternyata seperti biasa, Anies kembali keliru dan salah saat ditanyai wartawan di doorstop.

Kalau dalam debat kita melihat bagaimana data dan pernyataannya sering salah, maka pernyataan bahwa Jakarta (Batavia) adalah yang pertama melihat Belanda dan paling merasakan penjajahan adalah fakta sejarah yang sangat keliru.

Belanda dalam bentuk kongsi dagang bernama VOC (Vereenigde Oost-Indische Compagnie), datang pertama kali bukanlah di Jakarta (Batavia), melainkan di Banten, yaitu daerah Anyer Panarukan. Lalu, yang paling merasakan penjajahan juga bukanlah Jakarta (Batavia), melainkan daerah-daerah pelosok.

Sejak kedatangan Belanda dengan VOCnya dari maret 1602 – 30 Mei 1619, Jakarta (Batavia) tidak pernah merasakan perang dengan VOC dan negara lain yang berusaha memonopoli perdagangan rempah-rempah di Indonesia. Banten, Aceh, Ternate, Tidore, Ambon dan Banda adalah pelosok-pelosok pertama yang melihat Belanda dari dekat dan merasakan penjajahan.

Dan Barulah di Mei 1619, Belanda dengan Armada besar melakukan serangan besar dan merebut Jakarta (Batavia) yang kemudian menjadikannya pusat perdagangan VOC. Dan kalau saat itu dikatakan pertama kali, maka Anies jelas-jelas ngawur dan tidak paham tentang sejarah. 17 tahun pelosok-pelosok sudah melihat Belanda dan mengalami penjajahan dan usaha monopoli.

Anies mengalami apa yang dikatakan orang kebohongan satu akan menghsilkan kebohongan lain atau dalam kasusnya Anies lebih tepat dikatakan kekeliruan lain melahirkan kekeliruan-kekeliruan lainnya. Sudah keliru berpidato memasukkan istilah pribumi dan non pribumi, kini malah keliru menjelaskan soal sejarah. Seolah-olah Jakarta (Batavia) yang paling pertama lihat Belanda dan juga paling merasakan penjajahan.

Lalu apa pesannya dari kekeliruan demi kekeliruan ini??

Entahlah.

Simak videonya dibawah ini:

Komentar netizen: 

Ya gitu lah klo tiap ada pelajaran ips cabut terus ke tukang gameboy yg pake tali

.Edannn lu pikir cm jakarta aja yang berjuang ngusir penjajah??yang laen cuma nonton??

Maklum, kita Sumpah Pemuda-nya tahun 1928. Belio sumfah femuda-nya taon 1934

tp dulu bisa jd menteri pendidikan yah? 😱 tp lbh untung lg dah di kickout, klo kg sejarah bangsa bisa awut2an 🤣 @jokowi

Apa kabar pertempuran Surabaya pak? Yang bahkan diingat sebagai HARI PAHLAWAN. @aniesbaswedan Gak dianggap? @aniesbaswedan

Benteng belanda di Ternate kurang lebih 10 Pak @aniesbaswedan kalo nenek moyang kami ga perang lawan belanda, gmna kami bsa ada disini 🤔

 

 

Sumber Berita Komentar Anies Tuai Kecaman Disaat Bermaksud Klarifikasi Soal Pribumi : Infoteratas.com

Comments

comments